antropologi pakaian turis

mengapa kita memakai baju yang takkan kita pakai di rumah

antropologi pakaian turis
I

Mari kita buka lemari pakaian kita dan cari sudut paling gelap di sana. Pernahkah teman-teman menemukan sepotong kemeja pantai yang motifnya sangat mencolok? Atau mungkin celana aladin bergambar gajah yang kita beli di pasar malam Thailand? Saat membelinya dulu, kita merasa baju itu adalah puncak gaya busana mutakhir. Kita memakainya dengan penuh rasa percaya diri di sepanjang jalanan tempat wisata. Namun sekarang, untuk sekadar memakainya ke minimarket depan rumah saja rasanya kita tidak punya nyali. Mengapa fenomena absurd ini bisa terjadi? Mengapa kita tiba-tiba menjelma menjadi orang dengan selera mode yang sama sekali berbeda saat sedang liburan? Ini bukan sekadar perkara khilaf belanja saat liburan. Ada sains dan sejarah panjang di balik mengapa kemeja bunga-bunga itu bisa berakhir di keranjang belanja kita.

II

Sepanjang sejarah, sebuah perjalanan atau traveling tidak pernah murni tentang pindah dari titik A ke titik B. Di abad ke-18, para bangsawan Eropa melakukan Grand Tour melintasi benua. Mereka tidak hanya sekadar mencari pemandangan indah. Mereka sebenarnya sedang mencari kebebasan berekspresi yang dikekang oleh aturan ketat istana mereka sendiri. Secara psikologis, saat kita memesan tiket pesawat, otak kita mulai menyalakan mode pelepasan. Dalam kacamata antropologi, ada sebuah konsep yang bernama liminality atau fase ambang batas. Ini adalah sebuah ruang transisi. Saat kita berada di bandara atau stasiun, kita secara harfiah telah keluar dari realitas sehari-hari, namun belum sepenuhnya masuk ke realitas tempat tujuan. Di zona abu-abu inilah, ego pengawasan diri kita mulai melemah. Kita merasa aturan sosial di kota asal kita tiba-tiba ditangguhkan. Pertanyaannya, apakah sekadar berada di tempat baru sudah cukup untuk mengubah isi kepala kita secara drastis?

III

Ternyata, otak kita membutuhkan semacam alat bantu visual untuk benar-benar percaya bahwa kita sedang bebas. Ilmu psikologi mengenal fenomena ini dengan istilah enclothed cognition. Konsep ini menjelaskan bahwa pakaian yang kita kenakan secara sistematis memengaruhi cara kerja otak kita. Pakaian bukan cuma pelindung tubuh, melainkan ekstensi dari kognisi dan emosi kita. Ketika peneliti memakaikan jas laboratorium kepada sukarelawan, tingkat fokus dan ketelitian mereka mendadak meningkat drastis. Nah, coba bayangkan apa yang terjadi pada otak kita saat kita memakai topi sombrero lebar atau gaun pantai neon. Baju-baju ini mengirimkan sinyal kimiawi langsung ke otak. Ia memicu pelepasan dopamin yang berbisik, "kamu sedang bersenang-senang, kamu bukan lagi seorang staf kantoran." Namun, hal ini memunculkan satu teka-teki baru. Jika kita hanya ingin bersantai, mengapa kita tidak memakai kaus belel favorit yang biasa kita pakai tidur saja? Mengapa kita harus repot-repot membeli atribut eksotis yang bahkan sama sekali tidak merepresentasikan keseharian kita?

IV

Di sinilah antropologi evolusioner memberikan jawaban yang paling mencerahkan. Pariwisata modern sebenarnya adalah bentuk sekuler dari ritual ziarah masa lalu. Saat berziarah, orang zaman dulu menanggalkan pakaian kebesaran mereka dan memakai jubah khusus agar setara dengan peziarah lain. Hari ini, kita melakukan hal yang sangat mirip. Kita memakai seragam turis untuk menciptakan sebuah identitas baru. Secara evolusioner, manusia sangat terprogram untuk mematuhi norma kelompoknya agar bisa bertahan hidup. Di kota asal, kita terkunci dalam berbagai peran sosial. Kita harus menjadi karyawan yang profesional, tetangga yang sopan, atau orang tua yang berwibawa. Beban ekspektasi sosial ini sangat menguras energi kognitif kita. Liburan memberi kita sebuah tiket emas yang bernama anonimitas. Saat kita berjalan di pantai Bali atau menyusuri jalanan Tokyo, tidak ada yang tahu siapa kita sebenarnya. Memakai baju bermotif heboh yang menabrak norma mode adalah deklarasi bawah sadar bahwa kita sedang mematikan tombol kecemasan sosial. Kita sedang melakukan eksperimen identitas tanpa takut dihakimi. Baju turis yang terlihat norak itu, pada hakikatnya, adalah wujud fisik dari kebebasan psikologis yang paling murni.

V

Pada akhirnya, kita semua memang harus pulang. Tiket pesawat hangus, masa cuti habis, dan realitas kembali memanggil nama kita. Baju-baju ajaib itu masuk ke dalam koper, lalu berakhir menjadi tumpukan paling bawah di lemari. Otak kita kembali menyalakan mode bertahan hidup di dunia nyata. Sihir enclothed cognition dari kemeja bunga-bunga itu seketika memudar. Ia kembali menjadi sekadar sepotong kain biasa yang terlihat sangat salah tempat. Namun, mari kita ubah cara kita memandang benda-benda tersebut. Lain kali teman-teman melihat celana neon atau topi aneh yang sudah lama tidak tersentuh itu, jangan tersenyum sinis. Jangan pula menyesali uang yang sudah kita keluarkan. Lihatlah pakaian itu sebagai sebuah artefak keberanian pribadi. Baju itu adalah bukti sejarah bahwa di suatu waktu dan tempat, kita pernah mengizinkan diri kita untuk tidak peduli pada ekspektasi dunia. Kita pernah memberi jeda kasih sayang pada otak kita yang kelelahan. Jadi, simpanlah artefak liburan itu baik-baik. Siapa tahu, suatu hari nanti saat dunia terasa terlalu berat, kita butuh pengingat bahwa kita selalu punya hak untuk menjadi siapa saja.